. »

Saturday, June 30, 2012

Cinta ulama’ yang cukup indah..


Bersama Al-Imam Al-Hafiz Al-Mutafannin Al-Jihbiz Amirul Mukminin Fil Hadith Syaikhul Islam Syihabuddin Ahmad bin Ali as-syahir bi Ibni Hajar Al-Asqalani As-Syafiie Al-Asy'ari hafizahullah ta'ala pengarang kitab masyhur Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari.. 

||Sedikit kisah cinta Al-Imam yang jarang-jarang kita dengar ;)||

Syahadan, srikandi itu telah sekian lama begitu sabar mendampingi Al-Imam mengarang kitab Fathul Bari dalam kurun waktu seperempat abad. Wanita ini bukan termasuk insan yang dikenal. Tidak juga tercatat sebagai orang-orang masyhur. Tetapi dia hidup di dalam lingkungan ulama dan bangsawan terkenal di zamannya.

Ya, beliau adalah Al-Muhaddithah Syaikhah Uns binti Abdul Karim rahimahallah. Puteri bangsawan Mesir. Puteri keluarga terpandang di Mesir. Ayahnya adalah orang sangat terpandang di seluruh Mesir. Ibunya yang bernama Sarah binti Nasruddin juga orang yang sangat terkenal. Sebahagian keluarganya juga merupakan ulama terpandang. Lengkaplah sudah bahwa Uns hidup di kalangan orang berada yang dikawal dan penuh dengan kesenangan.

Mesir menjadi tempat kelahirannya. Tahun 780 H tepatnya. Kehidupannya sejak kecil seperti kehidupan para puteri bangsawan. Pendidikan yang diraihnya cukup tinggi. Dengan etika kebangsawanan yang tinggi. Hingga Syaikhah Uns di usianya yang baru menginjak dewasa sudah menjadi rujukan bagi para wanita bangsawan lain untuk bertanya. Hal ini kerana dia mempunyai ketajaman pemikiran dan kecerdikan minda.

Taqdirlah yang menjodohkannya dengan Sang Imam Ibnu Hajar. Melalui perantara guru Ibnu Hajar, Imam Ibnu Qotton. Pada bulan Syaban tahun 798 H, Mesir menjadi saksi kebahagiaan Ibnu Hajar dan Syaikhah Uns yang melangsungkan pernikahan mereka.

Ibnu Hajar ketika itu berusia 25 tahun sedangkan Syaikhah Uns berusia 18 tahun.

Syaikhah Uns telah memasuki dunia baru. Di sampingya kini adalah suami yang sekaligus ulama terkenal di zamannya. Ahli hadits yang tiada bandingnya. Dan Ibnu Hajar sungguh beruntung juga mendapat isteri solehah yang sangat mencitai ilmu. Allah telah menjodohkan pasangan yang sangat serasi ini. Tidak mustahillah walaupun telah berkahwin, ratusan kitab berjaya ditulisnya termasuk karya agung Fathul Bari yang siap ketika di alam rumah tangga...

Perkahwinan tidak sekali menghalangi sang Imam untuk terus berkarya dan berjasa kepada ummah..

Dengan penuh ketekunan dan cinta, Syaikhah Uns belajar hadits di rumah bersama suami tercinta yang mengajarnya juga dengan segala kesabaran dan kasih sayang.

Seiring dengan perjalanan waktu, Syaikhah Uns mulai menjadi wanita yang memiliki ilmu hadits. Hingga suatu saat, Syaikhah Uns menjadi salah satu dari ahli hadits wanita yang sangat jarang didapati ketika itu. Syaikhah Uns mulai memasuki dunia keilmuwan dan namanya dikenal oleh para pecinta ilmu.

Syaikhah Uns pun mulai disibukkan dengan mengajarkan ilmu hadits yang dipelajarinya dari sang suami. Seperti juga suaminya, Syaikhah Uns mempunyai murid-murid yang banyak. Ada yang membaca shohih Bukhari dari awal hingga akhir.

Syaikhah Uns tetap seperti wanita lain. Yang suka memasak dan membuat kueh istimewa. Setelah murid-muridnya menamatkan shohih Bukhari, biasanya Syaikhah Uns membuat kueh dan makanan serta buah-buahan. Uns mengundang penduduk daerah tersebut. undangan terbuka untuk umum. Semua murid dan penduduk kampung dari yang besar hingga yang kecil semua berduyun-duyun menghadiri kenduri besar itu. Apalagi hari itu, adalah hari menjelang bulan Ramadhan. Pesta itu ikut dihadiri oleh suami tercinta Ibnu Hajar.

Bahkan Imam As-Sakhowi yang juga murid Ibnu Hajar, pernah meminta untuk belajar hadits dari Syaikhah Uns. Dengan begitu sabar Ibnu Hajar duduk di samping isterinya yang sedang menyemak bacaan As-Sakhowi. Kebersamaan yang sangat indah.

Kebahagiaan keluarga berkah ini dilengkapi dengan hadirnya anak-anak buah cinta mereka. Syaikhah Uns memang luar biasa. Bukan saja sebagai pecinta ilmu, tetapi juga wanita yang memiliki kecintaan dan kasih sayang yang besar kepada suaminya dan memberikan keturunan untuk Ibnu Hajar.

Setelah empat tahun mereka menanti, Allah berkenan memberikan keturunan pertama, perempuan. Yang diberi nama Zein Khotun. Sebuah keluarga yang tertata rapi, kerana isteri yang terdidik di keluarga bangsawan yang penuh dengan kedisiplinan. Jarak dari satu anak ke anak yang lain hampir rata. Sekitar tiga tahun. Allah memberikan puteri kedua yang diberi nama Farhah. Berikutnya yang ketiga juga puteri yang diberi nama Gholiyah. Jarak tiga tahun berikut lahir puteri keempat yang diberi nama Robiah. Dan akhirnya yang kelima pun putri dengan nama Fatimah.

Pasangan dengan lima puteri yang cantik dan comel. Suasana keluarga semakin terasa indah dan meriah. Syaikhah Uns yang telah mengabdikan hidupnya untuk suaminya membuat Ibnu Hajar selalu merindukannya. Ketika Ibnu Hajar harus pergi meninggalkannya menuju Mekah dalam rangka melanjutkan menuntut ilmu, jarak Mesir-Mekah mengukir kerinduan yang mendalam di hati Ibnu Hajar. Kerinduan terhadap kelima puterinya dan ibu dari puteri-puterinya. Ibnu Hajar sempat menguntai bait-bait syair untuk mengungkapkan kerinduannya yang sangat dalam.

Begitu romantik dan puitis. Kalah kisah romeo dan juliet. Begitulah kisah cinta Ulama.

Perpisahan itu, semakin menambah, kebersamaan mereka semakin indah. Saat-saat Allah mempertemukan mereka kembali. Pada suatu hari Syaikhah Uns meminta untuk ditemani pergi haji. Ibnu Hajar pun pergi dengan isteri tercintanya itu untuk membangun kebersamaan itu di atas ibadah.

Setelah haji yang pertama ini, Syaikhah Uns kembali merindukan Mekah setelah kira-kira lima belas tahun berikutnya.Syaikhah Uns meminta izin kepada suaminya untuk pergi haji. Ibnu Hajar mengizinkannya. Kali ini Uns ditemani oleh cucunya Yusuf Syahin yang masih kecil.

Bersama kebahagiaan ini, Allah mempunyai kehendak lain. Kebahagiaan Syaikhah Uns bersama suami tercinta dan puteri-puterinya serta cucunya, harus menghadapi taqdir Allah. Satu persatu puterinya meninggal di pangkuannya. Puterinya yang ketiga dan keempat meninggal terlebih dahulu setelah tertimpa penyakit yang mewabah waktu itu. selang beberapa tahun berikutnya, putrinya pertama menyusul kedua adiknya. Untuk kemudian giliran Allah memanggil putrinya yang kedua dan terakhir.

Dengan segala keteguhan hati,Syaikhah Uns menerima taqdir Allah, melepas kepergian belahan jiwanya. Tidak ada keluh kesah, yang ada adalah pasrah Kepada Allah.

Syaikhah Uns bak mutiara kilauannya semakin bersinar dari hari ke hari.

Setelah lima puluh empat tahun mereka berbahagia bersama. Saling membantu, memahami, memaafkan dan bercinta. Pada bulan jumadil awal tahun 852 H Ibnu Hajar mendapat musibah sakit. Sakit itu berlanjutan sampai tujuh bulan lamanya. Dengan penuh pengabdian yang tulus dan kesabaran yang luar biasa, Uns merawat suaminya. Hingga pada malam Sabtu tanggal 28 Dzul Hijjah tahun 852 H Uns harus melepaskan orang yang paling dicintainya dalam hidupnya. Harus melepas kenangan indah bersama suaminya. Untuk dilanjutkan kelak di akhirat sana.

Syaikhah Uns adalah wanita yang sangat setia. Tidak terfikir olehnya untuk menikah lagi. Padahal Syaikhah Uns masih hidup 15 tahun lagi setelah ditinggal suaminya. Dalam rentang 15 tahun itu Syaikhah Uns menghabiskannya untuk iimu, ibadah dan pengabdian kepada masyarakat. Allah berkenan memberinya usia panjang. Pada usianya yang ke-87 tepatnya bulan Robiul Awal tahun 867 H, Syaikhah Uns harus menghadap Penciptanya menyusul suami tercintanya rahimahumullahu ta'ala di taman-taman syurga..


p/s dipetik dari pembaca CH, salah satu FB sahabat.. CH agak tertarik dengan cerita ulama' ini.. pasangan suami isteri yang berjuang menegakkan Islam bersama-sama.. indahkan cinta ulama ini..

" kenali ulama' kerana nanti akan disoal oleh Allah,masa hidup kita adakah kita cenderong kearahnya atau sebaliknya.."

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...